• 21

    Nov

    Sapa - Sepi

    Bila sekedar sapa menjadi prasangka sebaiknya ku menepi - sepi Jika sepi menjadi penopangmu jika amarah menjadi bahan bakarmu kau pun hanya bisa menulis tanpa henti sebagai anestesi
  • 5

    Sep

    Tersisa Mimpi

    Hadirmu di setiap mimpiku, membunuh kerinduanku sekaligus ragaku
  • 25

    Apr

    Hard

    tanpa cintamu, tanpa aku bisa mencintaimu, aku hanyalah seorang lelaki kasar biasa Sang Pengembara melipat puisi yang buru-buru ditulisnya, sebelum menghambur ke tengah kerusuhan. T A M A T
  • 22

    Mar

    Senja

    Duduk mencakung berbahaya di pagar jembatan, sang Pengembara memandang langit senja. Seperti ada seseorang tidak sengaja menumpahkan cat jingga di kanvas putih langit biru, lukisan langit senja kali ini benar-benar menakjubkan. Warna jingga, biru serta awan putih berpadu dengan sempurna. Sang Pengembara menghela napas. Tangannya melipat surat yang masih dipegangnya, kemudian memasukkannya di saku jaket jeans. Dia memandang ke bawah jembatan. Gemericik air sungai membentur batu-batu kali terdengar jauh jauh dibawahnya. “Andai aku terjun dari sini, mungkin aku akan benar-benar menghilang tanpa ditemukan lagi.” gumamnya. Sang Pengembara tersenyum. Suara tonggeret yang berbunyi nyaring di pohon-pohon hutan yang ada di sekililing jembatan sunyi inilah yang menjaga kesadarannya unt
  • 10

    Feb

    Surat untuk Gadis jam 5 sore

    Hai.. Ngg…maaf, kenalkan, namaku Jaka. Anak SMA 1. Ngg…duh, nulis aja jadi grogi… ehm…sori. Kamu pasti tidak kenal aku, lha aku aja tidak tau namamu. Cuman, kamu sadari apa nggak, kita selalu papasan di dekat lampu merah depan toko Arum…setiap jam 5 sore. Ehm…(duh malu) Setelah kita berpapasan kedua kalinya, sejak saat itu aku selalu mengatur waktu pulangku dari les biar tepat waktu jam 5 sore berada di dekat lampu merah depan toko Arum itu. Dan memang setiap jam 5 sore kita lagi-lagi berpapasan. Sialnya… senyum sebagai awal sapaan saat kita bertemu pun aku tak bisa lakukan. Wajah mu yang cantik, mata mu yang besar dan bening serta gerai lembut rambut hitam mu… selalu mengunci senyumku pada dataran niat saja. Bahkan kaki ku pun seaka
  • 9

    Feb

    Terima Kasih

    Sebelum terima kasih tentu diawali dengan permintaan maaf. Maafkan hamba, sebetulnya pengumuman ini sudah berlangsung sejak seminggu yang lalu. Tapi pada waktu bersamaan, saya disibukkan dengan tugas sosial yang menggunung. (mohon jangan dibayangkan tugas sosial yang keren2. Seperti menyantuni anak yatim atau menyeberangkan nenek2 di jalan. Ini cuma tugas sosial balas budi saja, kok). Jadilah, jadwal nge-blog saya terhuyung-huyung. Alhamdulillah disela-sela jadwal tidur yang padat kejar deadline tugas sosial, saya masih sempat untuk belajar python dan Ngobrol Sore ke 13 kalinya. Akhirnya
  • 26

    Jan

    Kau Hitung Pori-pori Ku?

    Duhai suami ku, tak bisakah kau berhenti mengejutkan ku? Tiba-tiba saja kau datang merayu ku Kau bilang hendak menghitung pori-pori ku? katamu hendak menghitung dengan bibirmu sambil menyerap aroma tubuh ku? Kamu tak peduli akan terasa asin pori karena keringat ku? Dengan tetesan es yang membeku dicampur madu dan susu akan kau bikin merintih dan menggelinjang tubuh ku? Itulah rayuan mu pada ku. Wahai suami ku, tahukah kamu sekarang adalah hari “merah” ku? Wahai suami ku, melihat ekspresimu itu begitu tau, membuat tak kuasa membendung tawa ku dan malam itu kuhabiskan malam dengan perut ka-ku —————————————————————– Mungkin itulah puis
  • 23

    Jan

    Komputer di Rumah Kayu

    Siang tenang di Rumah Kayu. Angin berhembus sejuk memasuki ruang-ruang di Rumah Kayu yang memang terbuka lebar bagi angin sejuk yang senang bertandang ke dalam rumah damai ini. Bunga-bunga di halaman mekar terkantuk-kantuk dibelai angin lembut ini. Suasana yang damai di Rumah Kayu. Seperti biasa. Tidak menunjukkan tanda-tanda bakal ada badai yang sebentar lagi melanda Rumah Kayu. Siang ini suami Rumah Kayu duduk di depan komputer. Tampaknya terjadi sesuatu pada komputernya, sehingga membuat ekspresi wajahnya terlihat kesal. “la computer! (dasar komputer!) ” seru Kuti kesal. Tangannya melambai putus asa… Mungkin biar terlihat seperti orang Perancis betulan. Istri Rumah Kayu menatap heran suaminya. Tak biasan
  • 21

    Jan

    Halo dunia!

    eh, ada Pradna lagi! :D duh,duh…selain bakal buat lomba Rumah Kayu, masih dipikirkan pengkhususan blog ini. Mohon doa restunya (worship)
-

Author

Follow Me

Search

Recent Post