Sapa - Sepi

Nopember 21, 2011 |  Tagged , , | Leave a Comment

Bila sekedar sapa menjadi prasangka

sebaiknya ku menepi - sepi

Jika sepi menjadi penopangmu

jika amarah menjadi bahan bakarmu

kau pun hanya bisa menulis tanpa henti

sebagai anestesi

Tersisa Mimpi

September 5, 2011 |  Tagged , | Leave a Comment

Hadirmu di setiap mimpiku,

membunuh kerinduanku

sekaligus ragaku

Hard

April 25, 2011 |  Tagged , , | Leave a Comment

tanpa cintamu,

tanpa aku bisa mencintaimu,

aku hanyalah seorang lelaki kasar biasa

Sang Pengembara melipat puisi yang buru-buru ditulisnya,

sebelum menghambur ke tengah kerusuhan.

T A M A T

Senja

Maret 22, 2011 |  Tagged , , | 1 Comment

Duduk mencakung berbahaya di pagar jembatan, sang Pengembara memandang langit senja. Seperti ada seseorang tidak sengaja menumpahkan cat jingga di kanvas putih langit biru, lukisan langit senja kali ini benar-benar menakjubkan. Warna jingga, biru serta awan putih berpadu dengan sempurna.

Sang Pengembara menghela napas. Tangannya melipat surat yang masih dipegangnya, kemudian memasukkannya di saku jaket jeans.  Dia memandang ke bawah jembatan. Gemericik air sungai membentur batu-batu kali terdengar jauh jauh dibawahnya.

“Andai aku terjun dari sini, mungkin aku akan benar-benar menghilang tanpa ditemukan lagi.” gumamnya. Sang Pengembara tersenyum. Suara tonggeret yang berbunyi nyaring di pohon-pohon hutan yang ada di sekililing jembatan sunyi inilah yang menjaga kesadarannya untuk tidak tergoda melakukan apa yang dia gumamkan.

Sekali lagi dia memastikan surat dari wanita yang mencintainya berada di saku kanan jaket jeans-nya. Mengayunkan tubuhnya dengan ringan, kembali menjejak aspal jalan jembatan. Mengenakan backpack-nya. Sang Pengembara kembali mengagumi lukisan langit senja sore ini.

Kata orang, yang terberat adalah bukan siapa yang mencintaimu. Tapi lebih buruk dari semuanya, yaitu ketika tidak ada lagi orang kamu cintai.

Sang Pengembara menghela napas.

“Maafkan…kamu mencintaiku saat ku sudah terhancurkan.” kata sang Pengembara meminta maaf. Memasrahkan permintaan maafnya kepada angin untuk menyampaikan kepada penulis surat yang dengan tegar menyatakan cinta kepadanya.

Sang Pengembara melangkah pergi. Bayangnya ditelan gelapnya malam yang mulai merayapi senja.

T A M A T

==========================================================

** lanjutan cerita yang ada di pojokpradna ^_^

Hai..

Ngg…maaf, kenalkan,
namaku Jaka. Anak SMA 1.

Ngg…duh, nulis aja jadi grogi…

ehm…sori.

Kamu pasti tidak kenal aku, lha aku aja tidak tau namamu.

Cuman,
kamu sadari apa nggak, kita selalu papasan di dekat lampu merah depan toko Arum…setiap jam 5 sore.

Read more

Sebelum terima kasih tentu diawali dengan permintaan maaf.

Maafkan hamba,
sebetulnya pengumuman ini sudah berlangsung sejak seminggu yang lalu.
Tapi pada waktu bersamaan, saya disibukkan dengan tugas sosial yang menggunung. (mohon jangan dibayangkan tugas sosial yang keren2. Seperti menyantuni anak yatim atau menyeberangkan nenek2 di jalan. Ini cuma tugas sosial balas budi saja, kok).

Jadilah,
jadwal nge-blog saya terhuyung-huyung.
Alhamdulillah disela-sela jadwal tidur yang padat kejar deadline tugas sosial, saya masih sempat untuk belajar python dan Ngobrol Sore ke 13 kalinya.

Akhirnya bisa juga sampai ke giliran blog ini.
(benar-benar Playboy blog :mrgreen:)

Terima kasih,
saya haturkan pada Panitia Lomba Senandung Cinta dari Rumah Kayu yang telah nekat memenangkan saya .  *menjura*

Terima kasih,
juga saya haturkan kepada teman-teman yang telah bersusah payah meninggalkan komentar di sini dan memberikan dukungannya.
Melihat banyaknya komentar dan pengunjung, tentu ini hal menggembirakan bagi saya. Mengingat Detik Pradna ini adalah blog yang baru lahir kemaren sore dan masih butuh bimbingan para senior-blogger seru sekalian alam.

Sekali lagi, terima kasih *menjura takzim*

Duhai suami ku,

tak bisakah kau berhenti mengejutkan ku?

Tiba-tiba saja kau datang merayu ku

Kau bilang hendak menghitung pori-pori ku?

katamu hendak menghitung dengan bibirmu sambil menyerap aroma tubuh ku?
Read more

Siang tenang di Rumah Kayu.
Angin berhembus sejuk memasuki ruang-ruang di Rumah Kayu yang memang terbuka lebar bagi angin sejuk yang senang bertandang ke dalam rumah damai ini. Bunga-bunga di halaman mekar terkantuk-kantuk dibelai angin lembut ini.
Suasana yang damai di Rumah Kayu. Seperti biasa.

Tidak menunjukkan tanda-tanda bakal ada badai yang sebentar lagi melanda Rumah Kayu.
Read more

Halo dunia!

Januari 21, 2010 |  Tagged , , | 5 Comments

eh, ada Pradna lagi!  :D

duh,duh…selain bakal buat lomba Rumah Kayu, masih dipikirkan pengkhususan blog ini.

Mohon doa restunya (worship)